Senin, 07 Januari 2013

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM KONSELING



Filsafat dasar merujuk pada pandangan tentang manusia. Setiap pendekatan memiliki pandangan yang berbeda tentang sifat manusia, pribadi manusia, kondisi manusia dll. Pandangan tentang manusia ini akan melahirkan konsep dan landasan filosofis mengenai bimbingan dan konseling. Berikut pemaparannya.

A.    PENDEKATAN BEHAVIORISTIK
a)      Filosofi
Filosofi pendekatan behavioristik adalah empirisme; bahwa perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan, bukan oleh faktor hereditas atau genetik. Ekstrimis behavioristik, Watson, mengemukakan statemennya demikian: “Berilah saya seribu bayi, saya sanggup menciptakan seribu  tipe manusia. Anggapan dasar behavioristik adalah bahwa perilaku merupakan fungsi dari apa yang terjadi sebelumnya.
Pendekatan behavioristik menegaskan bahwa perilaku hanya dapat dijelaskan melalui hal-hal yang dapat diobservasi. Perilaku bukan merupakan proses mental yang  tidak kelihatan. Proses mental seperti berfikir, perasaan, dan motivasi, adalah sesuatu yang tersembunyi dan tidak dapat diobservasi; oleh karena itu teori behavioristik memandangnya sebagai materi yang tidak ilmiah. 
Prinsip-prinsip untuk menjelaskan perilaku menurut teori behavioristik:
1.      Perilaku dipengaruhi lingkungan
2.      Belajar adalah hubungan antara kejadian-kejadian yang dapat diamati (hubungan S-R) melalui kondisioning
3.      Belajar adalah perubahan perilaku
4.      Belajar terjadi apabila antara stimulus dan munculnya respon waktunya berdekatan.
5.      Ada kesamaan antara proses belajar manusia dan binatang
b)     Ko
Pembentukan perilaku (belajar), menurut behavioristik, terjadi melalui pengkondisian. Ada dua jenis pengkondisian. Pengkondisian klasikal: UCS menghasilkan CS. Pengkondisian operan: konsekuensi dari perilaku akan meningkatkan atau menurunkan frekuensi munculnya perilaku tersebut pada waktu-waktu selanjutnya. Dalam belajar atau pengkondisian perilaku, pendekatan behavioristik bertujuan mengubah perilaku bermasalah ke perilaku sesuai harapan. Dalam proses kondisioning, pendekatan behavioristik menggunakan instrumen penguat (reinforcement) dan pelemah (punishment). Penguat terdiri dari penguat positif dan penguat negatif. Pada penguat positif, perilaku yang diharapkan terbentuk karena diikuti oleh stimulus yang menyenangkan. Misal: komentar positif guru (stimulus menyenangkan) akan menyemangati siswa dalam belajar matematika (siswa rajin belajar matematika). Penguat negatif membentuk perilaku yang diharapkan  karena siswa ingin menghindari stimulus yang tidak menyenangkan. Misal: Ibu tidak memberikan uang saku (stimulus tidak menyenangkan) kalau anaknya tidak rajin mengerjakan PR. Untuk mendapatkan uang saku maka anak rajin mengerjakan PR. Atau guru mengatakan:  Adi, kamu tidak boleh bergabung membuat poster  dengan teman-temanmu (stimulus tidak menyenangkan), sebelum kamu menyelesaikan tugas.
Beda antara penguat positif dan negatif: pada penguat positif, siswa berperilaku positif untuk mendapatkan stimulus yang menyenangkan; sedangkan pada penguat  negatif, siswa berperilaku positif untuk menghindari stimulus yang tidak menyenangkan.  Beda antara penguat negatif dan punishment: Penguat negatif adalah untuk mengembangkan perilaku yang diharapkan, sedangkan punishment adalah untuk menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan. Agar penguat bekerja efektif, penguat harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul (prinsip kontingensi).

B.     Pendekatan Psikoanalitik
Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini. Motif-motif dan konflik-konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang. Kekuatan-kekuatan irrasional kuat; orang didorong oleh dorongan-dorongan seksual dan agresif. Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

C.    Pendekatan Eksistensial-Humanistik
Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas untuk menentukkan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendirian dan berada dalam hubungan dengan orang lain, keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan untuk mengaktualkan diri,

D.    Pendekatan Client-Centered
Memandang manusia secara positif; manusia memiliki suatu kecenderungan ke arah menjadi berfungsi penuh. Dalam konteks hubungan konseling, konseli mengalami perasaan-perasaan yang sebelumnya diingkari. Konseli mengaktualkan potensi dan bergerak ke arah meningkatkan kesadaran, spontanitas, kepercayaan kepada diri, dan keterarahan dalam.

E.     Pendekatan Gestalt
Manusia terdorong ke arah keseluruhan dan intregasi pemikiran perasaan serta tingkah laku. Pandangannya anti deterministik dalam arti individu dipandang memiliki kesanggupan untuk menyadari bagaimana pengaruh masa lampau berkaitan dengan kesulitan-kesulitan sekarang.
F.     Pendekatan Analisis Transaksional
Manusia dipandang memiliki kemampuan memilih. Apa yang sebelumnya ditetapkan, bisa ditetapkan ulang. Meskipun manusia bisa menjadi korban dari putusan-putusan dini dan skenario kehidupan, aspek-aspek yang mengalihkan diri bisa diubah dengan kesadaran.

G.    Pendekatan Tingkah Laku
Manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian sosial budaya. Pandangannya deterministik, dalam arti tingkah laku, dipandang sebagai hasil belajar dan pengondisian.

H.    Pendekatan Rasional Emotif
Manusia dilahirkan dengan potensi untuk berpikir rasional, tetapi juga dengan kecenderungan-kecenderungan ke arah berpikir curang. Mereka cenderung untuk menjadi korban dari keyakinan-keyakinan yang irrasional dan untuk mereindoktrinasi dengan keyakian-keyakinan yang irrasional itu. Tetapi berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan, dan menekankan berpikir, menilai, menganalisis, melakukan dan memutuskan ulang. Modelnya adalah didaktif direktif, Terapi dilihat sebagai proses reduksi.

I.       Pendekatan Realitas
Manusia membutuhkan identitas dan mampu mengembangkan "identitas kegagalan". Pendekatan realitas berlandaskan motivasi pertumbuhan dan antideterministik.





DAFTARPUSTAKA

Gerald Corey, 2005, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar